Dikutip dari tweet Fatima Alkaff / @ftkf 5 April 2013
“Aku cinta kamu.” “Tapi aku sudah punya pasangan! Dan aku cinta dia.” “Itu urusanmu, bukan urusanku.”
“Urusanku adalah mencintaimu sebaik-baiknya. Masalah kamu mau cinta aku atau orang lain, itu urusanmu.”
“Kamu bilang cinta sama aku tapi gak peduli aku cinta atau gak sama kamu. Ngapain bilang cinta? Mencintai diam-diam aja, ‘kan bisa?”
“Bisa saja aku mencintai diam-diam. Tapi itu tidak adil. Kamu berhak untuk tahu yg sebenarnya. Aku cinta kamu.”
“Adil, katamu? Mencintai diam-diam itu sah! Ibarat lapar dan tak punya uang, lalu menghirup-hirup aroma kuah sup hangat milik org lain.
“…menghirup aromanya saja, nikmat walau tidak bakal kenyang. Tapi setidaknya, kamu tidak mencuri cicip.”
“Kenapa kamu jadi.mempermasalahkan pengakuanku? Aku kan tidak menyakiti siapa-siapa. Tidak berusaha merebutmu pun.”
“Begini, aku menghargai kejujuranmu. Terima kasih. Tapi setiap aksi pasti akan mendapatkan reaksi. Tiap pilihan pasti punya konsekuensi…”
“… dan inilah reaksiku. Inilah konsekuensi dari pilihanmu. Kita tidak bisa berteman lagi.”
“Apa mencintaimu itu salah??” “Apa menurutmu ini benar??”
“Ini rasa, bukan ujian akhir. Bagaimana bisa menentukan salah benarnya?!” “Justru itu, pasti bisa kamu rasakan sendiri.”
“Bagiku ini terasa benar.” “Tapi benarmu terasa salah untuk orang lain. Ini salah. Kamu tidak seharusnya mencintaiku.”
“Baik, kita hentikan saja berdebat salah-benarnya. Yang penting sekarang kamu tahu kalau aku cinta kamu.”
“Kamu egois sekali. Aku tidak mungkin tidak memikirkan hal ini, seakan tidak ada yg terjadi. Aku merasa bersalah padahal bukan dosaku.”
“Maafkan aku.” “Maafmu tidak mengubah apapun.”
“Ah, bukan masalah. Aku cukup mencintaimu saja.” “Benar begitu? Gak mau memilikiku?” “Kamu kan punya dia.”
“Kalau aku tinggalkan dia buatmu?” “Tentu saja aku menolak mentah-mentah. Nanti bisa-bisa kamu tinggalkan aku untuk orang lain juga!”
“Ah sok tahu kamu. Masa depan, tidak ada yg tahu.” “Tapi itu bisa diperhitungkan. Seperti deret angka 1, 3, 5, maka selanjutnya pasti 7.”
“Itu angka, ini rasa.” “Sama saja, pola kebiasaan, mustahil berubah.” “Belum tentu.” “Alasannya?”
“Begini, 1, 3, 5, 7, dst itu contohmu. Tapi bagaimana dg 1, 3, 5 , 7, 10, 13, 16, 20, 24, 28…? Itu juga berpola. Dan polanya berubah.”
“Intinya?” “Intinya, manusia punya rasa, seberapapun melekat kebiasaannya tetap.bisa berubah juga saat menyangkut rasa…”
“Kamu tidak tahu pasti, kalau aku meninggalkan dia demi kamu, belum twntu aku jg akan meninggalkanmu utk org lain.” “Jadi kamu mau?”
“Mau apa?” “Maninggalkan dia lalu jadi milikku?” “Tidak akan!” “Loh, kenapa?”
“Aku takut kalau meninggalkan dia lalu jd milikmu, nanti kamu bilang cinta juga sama pasangan orang. Kamu bilang, kebiasaan mustahil berubah!”