khadimulquran:

Because you deserve some peace of mind.

khadimulquran:

Because you deserve some peace of mind.

(via beeaspelangi)

Sepenggal Kabar

Abimanyu : “Hai, apa kabar?” 

Senjani : “Masih seperti kemarin”

Abimanyu : “Rugi dong”

Senjani : “Kok?”

Abimanyu : “Iya, kalau hari ini masih sama seperti hari kemarin, berarti rugi dong. Seharusnya hari ini lebih baik daripada hari kemarin”

Senjani : “Oh, baiklah. Coba kamu tanya kabarku sekali lagi”

Abimanyu : “Hahaha. Apa kabar?”

Senjani : “Lebih baik daripada hari kemarin” 

Kamis malam, 2 Mei 2013.

…Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber, dan melebar. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.

Dee Lestari - Aku Ada

Grow a Day Older - Rectoverso

“… When I was in complete surrender of who I am, the helpless idiot venturing her endless lessons of love and life. When I was thankful that he would grow a day older and see what a mess I could be. And I can feel I am arriving in that moment again, right now, as I am cuddled like his Teddy, and still not knowing what to do or what to decide.”


See the sunrise
Know it’s time for us to pack up all the past
And find what truly lasts
If everything has been written, so why worry, we say
It’s you and me with a little left of sanity
If life is ever changing, so why worry, we say
It’s still you and I with silly smile as we wave goodbye
And how will it be? Sometimes we just can’t
 see
A neighbor, a lover,
 a joker
Or a friend you can count on forever?
How happy, how tragic, how sorry?
The sun’s still up and life remains
 a mystery
So, would it be nice to sit back in silence?
Despite all the wisdom and the fantasies
Having you close to my heart as I say a little grace
I’m thankful for this moment cause
I know that you

Grow a day older and see how this sentimental fool can be
When she tires to write a birthday song
When she thinks so hard to make your day
When she’s getting lost in all her thoughts
When
 she waits a whole day to say…
“I’m thankful for this moment cause I know that
 I
Grow a day older and see how this sentimental fool can be
When he ache his arms to hold me tight
When he picks up lines to make me laugh
Whan he’s getting lost in all his calls
When we can’t wait to say : “I
 love you’.”

If everything has been written down, so why worry, we say
It’s you and me with a little left of sanity.

-Dee Lestari-

Antiklimaks

Dikutip dari tweet Fatima Alkaff / @ftkf 5 April 2013

“Aku cinta kamu.” “Tapi aku sudah punya pasangan! Dan aku cinta dia.” “Itu urusanmu, bukan urusanku.”

“Urusanku adalah mencintaimu sebaik-baiknya. Masalah kamu mau cinta aku atau orang lain, itu urusanmu.”

“Kamu bilang cinta sama aku tapi gak peduli aku cinta atau gak sama kamu. Ngapain bilang cinta? Mencintai diam-diam aja, ‘kan bisa?”

“Bisa saja aku mencintai diam-diam. Tapi itu tidak adil. Kamu berhak untuk tahu yg sebenarnya. Aku cinta kamu.”

“Adil, katamu? Mencintai diam-diam itu sah! Ibarat lapar dan tak punya uang, lalu menghirup-hirup aroma kuah sup hangat milik org lain.

“…menghirup aromanya saja, nikmat walau tidak bakal kenyang. Tapi setidaknya, kamu tidak mencuri cicip.”

“Kenapa kamu jadi.mempermasalahkan pengakuanku? Aku kan tidak menyakiti siapa-siapa. Tidak berusaha merebutmu pun.”

“Begini, aku menghargai kejujuranmu. Terima kasih. Tapi setiap aksi pasti akan mendapatkan reaksi. Tiap pilihan pasti punya konsekuensi…”

“… dan inilah reaksiku. Inilah konsekuensi dari pilihanmu. Kita tidak bisa berteman lagi.”

“Apa mencintaimu itu salah??” “Apa menurutmu ini benar??”

“Ini rasa, bukan ujian akhir. Bagaimana bisa menentukan salah benarnya?!” “Justru itu, pasti bisa kamu rasakan sendiri.”

“Bagiku ini terasa benar.” “Tapi benarmu terasa salah untuk orang lain. Ini salah. Kamu tidak seharusnya mencintaiku.”

“Baik, kita hentikan saja berdebat salah-benarnya. Yang penting sekarang kamu tahu kalau aku cinta kamu.”

“Kamu egois sekali. Aku tidak mungkin tidak memikirkan hal ini, seakan tidak ada yg terjadi. Aku merasa bersalah padahal bukan dosaku.”

“Maafkan aku.” “Maafmu tidak mengubah apapun.”

“Ah, bukan masalah. Aku cukup mencintaimu saja.” “Benar begitu? Gak mau memilikiku?” “Kamu kan punya dia.”

“Kalau aku tinggalkan dia buatmu?” “Tentu saja aku menolak mentah-mentah. Nanti bisa-bisa kamu tinggalkan aku untuk orang lain juga!”

“Ah sok tahu kamu. Masa depan, tidak ada yg tahu.” “Tapi itu bisa diperhitungkan. Seperti deret angka 1, 3, 5, maka selanjutnya pasti 7.”

“Itu angka, ini rasa.” “Sama saja, pola kebiasaan, mustahil berubah.” “Belum tentu.” “Alasannya?”

“Begini, 1, 3, 5, 7, dst itu contohmu. Tapi bagaimana dg 1, 3, 5 , 7, 10, 13, 16, 20, 24, 28…? Itu juga berpola. Dan polanya berubah.”

“Intinya?” “Intinya, manusia punya rasa, seberapapun melekat kebiasaannya tetap.bisa berubah juga saat menyangkut rasa…”

“Kamu tidak tahu pasti, kalau aku meninggalkan dia demi kamu, belum twntu aku jg akan meninggalkanmu utk org lain.” “Jadi kamu mau?”

“Mau apa?” “Maninggalkan dia lalu jadi milikku?” “Tidak akan!” “Loh, kenapa?”

“Aku takut kalau meninggalkan dia lalu jd milikmu, nanti kamu bilang cinta juga sama pasangan orang. Kamu bilang, kebiasaan mustahil berubah!”

Ada kalanya seluruh organ tubuhku serasa ditusuk-tusuk ketika melihatmu tampak di mataku. Ujung rambut hingga ujung kakimu, semestinya itu hak yang aku terima sebagai kompensasi dari menyayangimu. Namun Tuhan marah, Dia mengambilmu dan menyerahkanmu kepada yang lebih beruntung daripadaku. Aku yang serakah ini, dihukumNya dengan rasa sakit yang sampai sekarang belum sembuh-sembuh.

Semestinya kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan kalau memang aku juga terlalu berarti untukmu. Semestinya kamu tahu, pedihnya rasanya ditinggalkan kalau memang kamu juga merasa aku meninggalkanmu. Tapi nyatanya, aku selalu pulang ke rumahmu. Di depan pintumu aku selalu menyesal dan menyadari kalau kita tidak benar-benar saling meninggalkan. Atau memang hanya aku yang berdiri di sini, mengetuk pintu sedari tadi dengan kamu yang tiada tampak sekadar melongok di jendela melihat siapa yang datang?

Aku selalu diam-diam mengintip di balik jendelamu, siapa tahu kamu masih mau menemuiku. Sayang, menyentuh pipimu saja aku sudah senang! Ayo, keluar dan sapa aku, kita berjalan-jalan semalaman!

Dan keluarlah kamu, kita berjalan-jalan seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Temaramnya lampu kota di malam yang larut selalu melenakanku di tiap-tiap waktu pendek yang kita punya ini. Seakan aku tak perlu menyadari akan kehilanganmu sebentar lagi. Sudahlah, mari kita nikmati sisa masa berulang yang cuma sejengkal ini. Tenggelamkan saja aku di pelukanmu sampai pagi. Karena aku hanya memilikimu di waktu-waktu ini.

Dan aku kembali membenci pagi. Ia selalu merebutmu dari rengkuhanku. Ia selalu membuatmu lebih dulu berdiri dan mengulurkan jemari membantuku bangkit dari mimpi senyaman ini. Segera kuciumi wajahmu, takut kalau-kalau aku tak sempat lagi menemuimu.

Matahari tersenyum meledek, aku cemberut marah bukan main. Kutanggalkan jaketmu yang kedodoran dari tubuhku dan menciummu sekali lagi.

Baiklah, ayo pulang. Besok malam kita berpelukan lagi, katamu.

Tentang Senjani dan Abimanyu.

Di Sudut Kota Bernama Yogyakarta.

 Tentang Ketakutan-ketakutan

Engkau ingat aku sangat penakut, bukan? Mungkin itu satu sebabnya engkau pergi agar aku bisa belajar untuk tidak takut lagi.

Lihatlah, telah aku kalahkan beberapa bentuk ketakutan (pada tinggi langit dan cuaca buruk) dengan menumpang pesawat menemui engkau.

Namun, engkau tidak pernah tahu alangkah banyak ketakutan menjajah hidupku setelah engkau pergi.

Maka sekarang di sinilah aku, di kotamu, beberapa hari saja ingin memberitahu itu—juga hendak meminta pelukan dan nafasmu.

Aku sungguh-sungguh butuh banyak pelukan untuk tubuhku yang sering diserang ketakutan menghadapi diri yang setiap saat hanya sendiri.

Mohon peluklah tubuhku! Peluklah! Peluklah dengan seluruh pelukan yang dimiliki lenganmu!

Tubuhku akan membawa pelukanmu pulang sebagai buah tangan dan penangkal ketakutan pada kesendirian yang semakin serupa setan.

Sementara nafasmu, biarkan aku hirup! Biarkan aku penuhi rongga-rongga hidup aku dengan sebagian nafasmu!

Sebab juga aku takut pelukan-pelukanmu kelak akan amat erat mencekik tubuhku, mencekik tubuhku hingga menjadi mayat.

Dengan nafasmu aku masih punya kesempatan hidup demi mengalahkan ketakutan-ketakutan lain yang mungkin akan tumbuh tambah banyak dan kuat.

Pelukkan, lingkarkanlah sepasang lenganmu ke tubuhku! Hembuskan, infuskanlah selang nafasmu ke pembuluhku!

Hei, mengapa engkau semata menangis? Adakah juga yang engkau takutkan, Sayang?

*

@hurufkecil

2 Maret 2013 

Akhirnya hari itu tiba,

Hari di mana tangisku akan sepecah ini,

Menderu sekencang ini.

Susahnya menerima takdir.

Dosa sudah aku, Tuhan.

Ampun.. Rintihku.

—-

Malam itu,

aku menerima kotak bercorak tribal berwarna ungu.

Kata kurir, itu darimu.

Menggigil sudah sekujur badanku,

Baiklah, Tuhan.

Jika memang ini yang sudah digariskan, aku akan mengikutinya. 

—-

Selamat tinggal, favoritku. 

Aku menyayangimu.

—-

Terima kasih atas rapalan Ar-Rahman dan ruang untuk do’a yang tiap hari tanpa jeda kau panjatkan khusus untukku.

Akupun akan terus mendoakanmu, di manapun kamu, aku.

Seada-adanya. Setiada-tiadanya, kita.

Ungaran, 2 Maret 2013.

REST IN PEACE

Memories of You

Mengaduhlah Sepedih-pedihnya

Di ruang itu, terakhir kali kau berdiri, sepi yang pasti, dan aku menunggu kata-katamu, seperti peserta seminar kiat sukses, yang telah seribu kali mencoba, seribu kali gagal. 

Lalu matilah lampu, dan semua jadi bayang-bayang. Cahaya yang lurus itu pasti tidak dari matamu yang semula juga, hanya ragu-ragu. Tak tahu, mana bayangku, mana bayangmu. 

Ruang ini, jika tanpa kau dan aku, telah terbiasa dengan sepoi-sepi. Saat tak ada apa-apa, waktu tak singgah, dan ruang ini tak merasa ada yang sia-sia. 

Mata yang haus, berlindung dari cahaya yang menipu, di balik kelopak yang memejam tak lengkap pejam, membuka tak sepenuh buka. Jauh melihat ke arah di sebalik kornea. 

Kita bukanlah penyabar, tapi kita bisa untuk tidak bergegas. Kita bisa menghindar dari yang mengejar. Menunda yang datang tanpa tanda. Adakah yang tepat untuk sesuatu yang tak tepat? 

Kalau nanti tak ada kisah kita lagi, waktu yang berperilaku kasar itu, akan menggerus kenangan tentangmu dari ingatanku. Juga aku dari ingatanmu? Bukankah - di hadapan waktu - kau sama saja: juga tak berdaya? 

Dan terakhir ku ingat dari ruang itu adalah desis nafasmu. Seperti menahan sakit yang kau tahu, tak akan bisa kau menahannya. Aduh, demi siksa itu, seluka-luka, mengaduhlah. Sepedih-pedihnya. 

-Hasan Aspahani-